Menuju Matahari
“Memang, Nakmas. Indah sekali di sana, apalagi waktu istananya masih berdiri. Sampai sekarang masih selalu ada yang berziarah ke sana, dari keluarga jauh Kanjeng Pangeran. Tadi juga baru saja ada yang berdoa. Saya lihat waktu mencari kayu bakar di dekat istana.”
Mata Jaladri melebar. “O, ya? Siapa itu, Mbokde?”
“Ki Randu Alas, dari Kalibening. Beliau sering sekali ke istana dan berdoa. Mungkin beliau masih bersaudara dengan Kanjeng Pangeran.”
Jaladri saling tatap sesaat dengan Ningrum.