Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Menantuku Selalu Diam Di Kamar

Menantuku Selalu Diam Di Kamar

tanya Mama Wati, yang aku tidak tahu siapa namanya. "Maaf, Mamanya Wati, memang rumahku tidak semegah dan sebagus ini. Tapi yang namanya bertamu biar semegah dan sebetah apapun tempat yang kita kunjungi, tetap saja itu tempat orang. Jadi lebih nyaman tinggal dan diam di rumah sendiri kan, walaupun rumah kita butut, atau berupa gubuk sekalipun," sahutku.
1014.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 350 kali sebagai jadikan aku rumah doamu
Baca
+Pustaka
Mantan Suami Ingin Cintaku Kembali

Mantan Suami Ingin Cintaku Kembali

Aku menyerah. Dua kata yang membuat tekadku kuat meninggalkan semuanya, termasuk rumah dan juga kota yang melahirkan aku. Napasku tercekat. Aku menatap sekeliling rumah. Dulu, rumah ini lah yang selalu menjadi tempat pulangku. Sekarang, aku harus meninggalkannya.
1025.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 607 kali sebagai jadikan aku rumah doamu
Baca
+Pustaka
Tak Apa Jadi Istri Kedua, yang Penting Soleha

Tak Apa Jadi Istri Kedua, yang Penting Soleha

"Sayang, Mas udah janji sama kamu kalo rumah ini buat kamu. Jadi kamu nggak usah mikir macem-macem. Mas nggak mungkin ingkar dari janji yang udah mas ucap." Alhamdulillah.... Bersyukur banget ya Allah. Tuhan memang maha besar telah menjawab doa-doa yang selama ini kupanjatkan. Soal kenapa aku sangat mengidamkan rumah ini, bukannya aku tamak, tapi rumah ini cocok sekali sama seleraku. Tata letaknya, lokasi, dan ukurannya juga pas sekaki dengan yang aku impikan sejak dulu. Lagipula ini rumahnya Mas Ahmad, bukan Mbak Rina. Tentu aku nggak ngerebut hak Mbak Rina, kan? Aku hanya mau menuntut hakku dari suamiku. Itu aja. Ini nggak ada hubungannya sama sekali sama Mbak Rina.
106.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 209 kali sebagai jadikan aku rumah doamu
Baca
+Pustaka
SARANG PREDATOR

SARANG PREDATOR

“Aku tidak mempercayaimu.” "Pintar." Aku memutar mataku. “Aku akan memberimu dan Adib rumah untuk kalian sendiri.” "Apa?" “Kedekatan denganku yang membuatmu lelah. Kau tinggal di rumahku, kau di bawah pemerintahan yang aku ciptakan di rumah ini. Kau akan pergi ke mana pun, ketika aku mengatakannya, dan melakukan apa pun yang aku katakan ketika kau sampai di sana. Itu bukanlah akting; itulah hidupmu di rumahku. Bagaimana jika kau tidak tinggal di rumahku? Bagaimana jika aku memberi kau dan Adib rumah sendiri? Kalian bisa pindah."
1024.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 506 kali sebagai jadikan aku rumah doamu
Baca
+Pustaka
Diantar Ke Rumahku

Diantar Ke Rumahku

"Ya, iyalah. Dia sedih sekali, lho, waktu Aku ternyata menolak dia. Padahal, kan, sebelumnya, aku juga suka dengan dia. Eh, apa Abang mengguna-gunai aku, ya?.... Adohh, dijewer lagi.. Kejam amat, sih?” "Yaa, kamu ngomongnya ngawur sih. Perlu dijewer, biar kapok.." "Tapi aku enggak selalu ngawur, kok. Misalnya, waktu aku bilang, bahwa jodoh juga bisa didapat, walaupun aku di rumah saja. Eh, ternyata benar, lho.. Abang datang sendiri ke rumahku, Hahaha..." "Kata siapa kamu benar? Aku tahu kok, apa komentarmu tentang aku: Jangan dengan Bang Idrislah, sudah tua, bukan Batak pula.."
107.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 254 kali sebagai jadikan aku rumah doamu
Baca
+Pustaka
Jadikan Aku yang Kedua

Jadikan Aku yang Kedua

urai Alya memberi pendapat. Gavin hanya manggut-manggut. Ia tidak memakan soto ayamnya hanya terus sibuk mengaduknya hingga menjadi tak karuan. Jelas sekali kalau pikiran Gavin sedang sangat kalut sekarang. “Kayaknya aku gak mau ngerepotin ibu, Al. Aku sudah mengambil satu unit rumah di daerah pusat kota. Aku sudah pernah bilang ke Rendi untuk menyisakan satu untukku. Gak masalah, ‘kan kalau aku membelinya dengan mencicil, Al?” kata Gavin kemudian.
9.416.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 464 kali sebagai jadikan aku rumah doamu
Baca
+Pustaka
Ibu susu untuk anak sang dokter bedah

Ibu susu untuk anak sang dokter bedah

Terlalu asing. Raka sempat menoleh, alisnya terangkat. “Kenapa diam di situ? Masuk.” Aku menelan ludah. “Raka… aku… aku nggak bisa begini. Aku bahkan nggak tahu ini di mana.” Tatapan Raka mengeras, tapi suaranya kali ini terdengar datar. “Mulai sekarang, kamu hanya perlu tahu satu hal: ini rumahmu. Tempatmu. Jangan pernah berpikir keluar tanpa izin saya.”
816 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 26 kali sebagai jadikan aku rumah doamu
Baca
+Pustaka
Cinta Diam-Diam Sang Bos

Cinta Diam-Diam Sang Bos

jawabku pelan. "Sebagai seorang ayah, aku pasti akan kangen kamu, tapi aku ngerti kok kalau kamu pengin mandiri. Tapi aku pengin kamu tahu, rumah itu juga rumahmu. Kamu bakal punya kamar di sana, kalau kamu berubah pikiran, kalau mau nginep beberapa hari, atau apapun itu. Aku sayang sama ibumu, Sekar, dan kamu bagian dari dia, aku nggak mau memisahkan kalian. Lagi pula, kayak yang sudah aku bilang, kamu seperti anak sendiri buatku, dan aku pengin kamu tahu kamu bisa selalu mengandalkan aku dan ibumu. Rumah itu akan selalu terbuka buat kamu kapan pun kamu butuh."
9.839.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 958 kali sebagai jadikan aku rumah doamu
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status