Ada sesuatu yang sangat pribadi tentang ruang-ruang yang kita huni. Untuk membuat cerita tentang rumah terasa lebih emosional, aku sering menggali kenangan kecil yang tampaknya remeh tapi sebenarnya sarat makna. Misalnya, dinding penuh coretan pensil saat pertama kali mengukur tinggi adik, atau sudut dapur tempat nenek selalu bercerita sambil memasak.
Detail sensorik juga penting—bau kayu lama yang hangat, suara lantai berderit di malam hari, atau bagaimana cahaya pagi menyapu ruang tamu. Dengan menuliskan momen-momen ini seolah-olah pembaca bisa merasakannya langsung, cerita tentang rumah bukan sekadar bangunan, tapi kumpulan fragmen hidup yang membentuk siapa kita.