Ibu, Jangan Tinggalkan Kami
Aku mencoba menelepon nomor ponsel, tetapi tidak aktif.
Telapak tanganku membungkam mulut sendiri. Supaya teriakanku teredam. Kemudian, aku menangis. Gemuruh amarah, kecewa, dan benci berbaur di dada.
"Mbak Sinar, kenapa menangis?" Rahma bertanya.
Aku berpaling seraya mengusap air mata yang berjejak di pipi. "Nggak ada apa-apa ...."