Kami Tanpa Kamu
Mas Malik terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca, kepalanya mengangguk berkali-kali.
"Terimakasih banyak, Hana."
Hari itu aku memulai babak baru, perlahan mengiklaskan masa lalu. Mungkin belum bisa memaafkan, tapi setidaknya memberi kesempatan.
Mas Malik pamit pulang, ia berjanji akan berkunjung lagi saat lebaran.
"Nggak perlu, setiap lebaran kami pulang ke Lampung, saat itu Mas boleh bersama Ramaniya."