Jodoh yang Tertunda
“Ya ampun, kupikir pembantu kamu, Bro! Maaf-maaf, nih, Bro! Ahahaha! Secara, penampilannya aja gitu. Kucel, pakai daster lagi!”
Tak lama, terdengar suara tawa dari kedua lelaki itu. Aku mematung. Dadaku terasa seperti ditusuk demi mendengar hinaan yang baru saja dilontarkan teman Mas Ardan.
“Bisa aja kamu! Pembantu plus-plus namanya!” sahut Mas Ardan setelah berhenti tertawa.
“Pantes aja kamu sering unggah foto sama yang bening-bening di Bukuwajah. Ternyata, yang di rumah, bentuknya seperti itu!” timpal lelaki bermulut lemas bernama Dodi itu.
Bab Populer