CINTA DARI MASA LALU
Wanita itu terus berjalan pelan sambil menundukkan kepalanya.
Duniamu seperti ambigu bagiku, Luwi. Duniamu penuh dengan senyum palsu. Tapi jiwamu setegar karang di lautan. Yang tak sama sekali goyah diterpa ombak. Dan perlu kamu ketahui, justru hal itu yang perlu di waspadai. Karang itu boleh terlihat kokoh bahkan ketika badai datang dia tetap berdiri di tempat semula. Tapi lihatlah, lambat laun, sedikit demi sedikit, karang itu akan terkikis. Menghadirkan lubang-lubang kecil pada bagian-bagian tertentu yang terasa lebih rapuh. Hingga pada akhirnya, karang itu akan kalah juga. Dan seperti itulah dirimu sekarang. Seberapa kuatpun kamu berusaha menutupi penderitaanmu dariku, aku akan tetap mel