Kafan Hitam
“Punteun, saya mengganggu, Kang. Saya disuruh bapak untuk memberi makanan ini. Tolong diterima.”
Tangan Euis terulur. Wajahnya menunduk, menyembunyikan raut merah di pipi saat melihat pemuda di depannya yang hanya memakai celana katun, kaus pendek, tanpa mengenakan peci. Tampan sekali.
“Hatur nuhun,” ucap Rojali seraya menerima sodoran rantang. “Sebentar, saya pindahkan—”
“Nanti saja, Kang,” sela Euis cepat, “saya masih ada urusan. Assalamualaikum.”
Chapitres populaires