Seribu Pintu Sindukala
lanjut Marsala, “keluarga besarku dibayar besar supaya mau menyetujui kematian Sindu dipalsukan, kasusnya hilang, dan memastikan aku tetap bungkam. Dari uang yang sangat besar itu, Mamah membelikanku rumah di Narwastu.”
Raesaka terkikik sekaligus menangis hingga jiwanya terkoyak. Tidak memahami permainan yang sebetulnya sedang dimainkan oleh orang-orang, dan mendiang ibunya sendiri. Ia menyaksikan rumah kecil ibunya roboh ditelan tanah Sadajiwa yang ikut runtuh. Bisingnya jeruji-jeruji besi, bergerak dari segala arah, mengurung Raesaka yang tetap diam di tempat. Sosok-sosok suram berseragam kepolisian, kejaksaan, dan hakim bermunculan dari kegelapan, mengelilingi dan memandanginya dalam kek
Hot Chapters