Tergoda Pesona Ibu Mertua
kataku, nada suara sedikit lebih serius, “Respon dari orang lain itu anggap aja bonus. Karena soal perasaan orang lain, kita nggak pernah bisa kontrol. Yang paling penting itu... lu udah berani menyampaikan perasaan lu sendiri. Minimal lu lega, nggak nyimpen semuanya sendirian.”
Reza terdiam. Wajahnya tampak berpikir keras. Aku tahu betul rasa itu, antara berharap dan takut ditolak. Tapi terus-menerus menyembunyikan perasaan pun bukan solusi.
“Apa perlu gua bantu ngomong?” tawarku setengah bercanda.
Dia tertawa kecil, walau masih tampak ragu. “Gila aja. Nggak usah, deh. Tapi... makasih, bro. Omongan lu masuk akal juga.”