Ada kalanya diam lebih menyakitkan daripada kata-kata pedas. Aku mencoba mengerti mengapa kau memilih menjauh, tapi setiap kali melihatmu acuh, rasanya seperti ada ribuan jarum menusuk pelan. Bukan aku tak mau berusaha, tapi bagaimana caranya memeluk bayangan? Kau dekat secara fisik, tapi jiwamu terasa seperti galaksi yang sedang menjauh. Mungkin ini bukan tentang kata-kata sedih, melainkan tentang kejujuran: apakah masih ada sisa cerita untuk kita, atau ini sudah menjadi bab terakhir yang tak pernah ingin kita baca bersama?
Aku ingat bagaimana dulu kau bisa menghabiskan jam hanya untuk mendengar keluh kesahku tentang hal sepele. Sekarang, bahkan 'hai' pun terasa seperti permintaan yang terlalu berat. Jika ini akhirnya, bisakah kita setidaknya saling mengembalikan kenangan itu dengan utuh—tanpa dingin, tanpa luka yang disimpan?