Ada kalanya aku merasa seperti angin yang berhembus di antara jari-jarimu—selalu ada, tapi tak pernah benar-benar kau rasakan. Dulu, setiap pesanku adalah cerita yang kau tunggu, sekarang seolah jadi spam yang mengganggu. Aku tahu orang berubah, tapi tak pernah kuduga rasanya akan sesakit ini. Kau masih membalas chatku, tapi dengan jeda berjam-jam dan kata-kata yang dingin seperti musim dingin tanpa salju. Aku mulai bertanya, apakah 'aku' dalam hidupmu sekarang hanya sekadar kenangan yang belum sempat kau hapus?
Kadang aku ingin marah, tapi lebih sering ingin memeluk erat bayangan 'kita' yang dulu. Kau ajari aku arti sabar, tapi kini kesabaran itu berubah jadi deretan notifikasi yang tak terbaca. Aku masih di sini, berdiri di depan pintu hatimu yang mungkin sudah terkunci rapat. Tapi yang paling menyakitkan adalah... aku bahkan tak tahu kapan persisnya kau mulai mengganti 'kita' dengan 'aku' dalam setiap kalimatmu.