Dua Hati, Satu Kehancuran
Wajahku tetap tenang, aku memberi alasan yang dibuat-buat, tanpa ada rasa panik sedikitpun di wajahku, “Oh, kantor pindah tempat, jadi aku bawa barang-barang dulu.”
“Kemana pindahnya?”
Radit mengernyitkan dahi, aku baru saja akan menjawab, namun Lisa tiba-tiba menyela,
“Kak Febby, belakangan ini aku sangat sedih karena ayahku meninggal, aku jadi banyak melakukan hal bodoh, seperti meminta Kak Radit untuk punya anak, sekarang aku rasa itu sangat konyol.”
“Tapi aku dan Radit sebenarnya nggak ada apa-apa, sekarang ayahku sudah nggak ada, aku nggak lagi ingin punya anak. Maaf, semoga kau nggak tersinggung.”
Bab Populer