Istri Tebusan Paman Mantanku
“Bukan dengan Kak Marisa, tapi temannya satu lagi.”
Kian melebarkan matanya, tapi kemudian ekspresinya berubah. “Halo. Ya, Pak. Saya sudah membaca surel dari perusahaan Bapak. Ya, betul. Oke.”
Laureta menghela napas. Meski sudah di jam seperti ini, Kian masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Namun, Laureta tetap menanti dengan sabar. Setidaknya, ia merasa jauh lebih leluasa saat berdua dengan Kian.