Bias Cinta
jawab Cinta, “tapi … nggak tau nanti, misal suatu saat aku berubah pikiran. Yang jelas, sampe sekarang aku masih nggak habis pikir, kenapa dia sampe tega berbuat seperti itu.”
“Aku bukan mau menyalahkan almarhum opamu. Dan aku juga nggak membenarkan sikap pak Kiano,” ujar Bias sambil mengusap lengan Cinta yang melintang di dadanya, “tapi, lidah bisa lebih tajam dari pedang. Mungkin, penghinaan yang dilontarkan opamu, adalah pemicu awal dari kebencian pak Kiano. Semua itu menumpuk, tapi dia nggak sempat melampiaskan sama opamu.”