Pendekar Pedang Naga
suaranya menggelegar, "tapi tentang tekad untuk tetap berdiri meski tubuh nyaris runtuh."
Latihan dimulai saat fajar masih menggantung rendah. Para prajurit digiring ke hutan berbatu, memanggul beban berat sambil berlari menembus jalur licin dan curam. Kael tidak hanya mengawasi—ia ikut berlari di tengah mereka, memberi contoh, menyalakan semangat.
Setiap kali ada yang terjatuh, ia berhenti, membantu mereka bangkit, lalu berkata dengan suara tegas, “Di medan perang, yang bangkit lagi adalah yang hidup. Yang menyerah, tinggal nama.”