Istri Ke-4 Tuan Tanah
“Ah! Selesai. Besok tinggal memberi gula dan asamnya, dan selesai. Mbok Fitri, kita istirahat dulu, aku akan memberi makan ....“ Ratih tak jadi melanjutkan ucapannya, ingat kalau semua kelincinya sudah mati kemarin.
Fitri mengusap punggung Ratih, “Jangan dipikir, kakang Prapto masih akan membelikannya kalau kamu minta kelinci itu lagi, atau bahkan saat kamu ingin hewan lainnya juga.”
Ratih menggeleng, “Tidak, Mbak Fitri. Aku takut ada yang jahil lagi. Sesuatu yang tidak bersalah, akan sangat menyakitkan kalau dibunuh begitu, aku tidak mau itu terjadi.” Ratih tak mau menangis lagi kalau punya peliharaan dan mati seperti yang kemarin juga.