Jodohku Muridku Sendiri
Karena dalam hidupnya yang penuh kehampaan, rasa sakit adalah satu-satunya hal yang bisa ia rasakan dengan nyata.
Devan menutup ponselnya, lalu bangkit dari kap mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Langkahnya menggema di lantai marmer yang dingin, melewati ruang tamu luas dengan chandelier mahal yang menggantung di langit-langit. Tidak ada suara. Tidak ada siapa-siapa.
Seperti biasa.
Seorang pelayan yang sudah berumur, Bu Mirna, muncul dari dapur dengan ekspresi cemas. “Tuan muda, mau makan malam sekarang?”