Bias Cinta
“Tapi, suatu saat aku bakal balas tamparan dia. Dan kamu, jangan pernah ikut campur dengan urusanku sama Cia.”
“Buatku, semua masih nggak masuk akal.” Bias menyandarkan punggung pada bingkai pintu, bersedekap. “Harusnya, kalau ditampar itu balas tampar. Kalau dipukul, balas pukul. Tapi, kenapa kamu justru diam aja?”
“Aku ...” Cinta menunduk. Meremat erat pakaian yang ada di kedua tangannya. Ia tidak mau lagi mengingat banyak luka yang pernah dialaminya. “Kamu nggak akan ngerti gimana perasaanku.”