Sisa Rasa
Satu kalimat.
Tapi cukup membuat Selin ingin menghilang.
“H-halo,” balas Selin singkat, sambil menjabat tangan Rendra.
Sentuhan singkat.
Hangat.
Dan cukup buat jantung Selin salah irama.
Dika melirik mereka bergantian. “Kalian sudah saling kenal?”
“Eee… iya,” Selin buru - buru jawab. “Teman lama.”
Rendra menggeser sudut bibirnya sedikit. Bukan senyum. Lebih kayak—hah, teman? ya sudah.