KEMBALINYA SANG RATU
Di sana, Lintang duduk bersila di atas tikar pandan, di hadapannya terbuka satu naskah tua—Kabanti Kangkilo Matakiri, lembar demi lembar ditulis dengan tinta hitam pada kulit kayu, memuat nilai-nilai luhur tentang hidup, tubuh, dan tanah.
“La Nini, dengarlah baik-baik,” ujar La Ode Harimao dengan suara berat seperti guruh yang tertahan, “Kangkilo bukan hanya larangan, tapi juga penjaga. Ia menjaga batas agar tidak ada yang terlewati, tidak ada yang dirusak, bahkan oleh niat.”