Ibu Susu Bukan Pengganti
Emas menghela napas panjang, menahan rasa sesak yang mulai mencengkeram dadanya.
Kini, langkah kakinya berhenti lalu mengangkat wajahnya dan menatap pada foto dalam bingkai ukuran 8R, tertempel di dinding tengah ruangan itu. Cahaya lampu yang redup berwarna oranye menyapu sebagian wajahnya. Foto itu melukiskan sebuah kenangan. Seorang pria gagah berdiri di samping seorang wanita bergaun putih, memegang buket bunga kecil-kecil dengan perpaduan warna putih dan kuning muda. Senyum mereka merekah, begitu bahagia. Pria itu adalah dirinya.
Emas mendekat, jari jemarinya menyentuh permukaan kaca bingkai. Matanya berkaca-kaca lalu berbisik lirih, "Maaf, aku sudah menemukan ibu susu."