Pertanyaan ini cukup menarik karena menyentuh batasan antara ekspresi seni dan konten eksplisit. Dalam konteks 'ml making love', interpretasinya bisa sangat subjektif tergantung mediumnya. Jika merujuk pada manga atau anime, seringkali adegan romantis digambarkan dengan nuansa poetic tanpa menampilkan detail vulgar—seperti di 'Kaguya-sama: Love is War' yang penuh ketegangan komedi romantis tapi tetap classy. Namun, beberapa karya seperti 'Nana to Kaoru' memang lebih eksplisit dan jelas target audiensnya adalah dewasa.
Yang membedakan konten dewasa bukan sekadar tema, tapi bagaimana penyampaiannya. Game visual novel seperti 'Clannad' pun punya adegan intim tapi disensor dengan cahaya atau sudut kamera, sementara 'Bible Black' langsung ke inti. Jadi, selama 'ml making love' tidak menampilkan grafis atau bahasa yang provokatif, bisa jadi hanya konten romantis biasa. Tergantung selera penikmatnya juga—aku pribadi lebih suka yang subtle karena meninggalkan ruang untuk imajinasi.