Patah
Lalu mulai merengek.
“Pak, tolonglah, Pak. Izin doang, Pak. Lisan aja. Cukuplah sampai lift sampai di bawah…” Nayara melupakan malu dan terus memohon, kadung semua kacau hari ini.
Lelaki itu, dari balik kacamata hitamnya, menelisik sosok gugup, gagap, linglung, dan kumal di depannya. Matanya bergerak dari atas ke bawah. Melihat rambut yang diikat kuda acak-acakan, kemeja bergaris dan celana panjang hitam—mungkin itu satu-satunya pakaian yang cukup resmi miliknya yang bisa dia pakai menghadap founder Sastra MediaNesia, berakhir di sepatu converse merah buluk yang solnya nyaris habis tergerus aspal. Lalu kembali menatap wajah Nayara.
Bab Populer