Antara Cinta dan Luka
Meja kayu tua, kursi rotan, 50 penonton—mahasiswa ITB, pasangan muda, beberapa turis backpacker.
Panggung kayu kecil, mikrofon berdiri, lampu sorot kuning. Lara berdiri di tengah, gaun hitam sederhana, rambut ikal sebahu, gitar akustik di pundak. Suaranya jernih, campuran Naya dan Maya—kuat tapi rapuh, seperti angin Bandung malam hari.
“Di tengah hujan… aku menanti…”