Menuju Matahari
Ada meja rendah berukuran luar biasa besar di sana, ditaruh pada lantai yang dilapis permadani tebal bercorak mewah merah keemasan, dan sangat lembut serta empuk saat diinjak dengan kaki telanjang.
Tiga orang duduk bersila di sana, menghadapi berpiring-piring hidangan serba lezat yang hampir menyesaki seluruh sudut meja. Mereka semua menoleh ramah ke arahnya.
“Kenalkan, ini Blarak,” kata Begawan Ripu sambil ikut beringsut duduk lesehan di permadani. “Dia pegawai rumah banjar Kajoran, sekarang naik pangkat jadi pesuruh kita di sini. Kau tentu sudah kenal mereka, bukan, Blarak?”