Lepaskan Aku, Om
Aku buat dia sampai tidak lupa dengan hari ini, hari di mana aku yang awalnya menjadi guru lest nya justru menjadi pemuas hasratnya.
Tanganku menyusuri kulitnya, seolah mencari sesuatu yang tak pernah kutemukan—kehangatan, mungkin. Atau sekadar alasan untuk tetap bertahan di ruangan dingin ini. Nafasku bertemu dengan lehernya, dan sejenak aku memejamkan mata. Bukan karena rindu, bukan karena cinta. Tapi karena aku ingin... melupakan.
Segala gerakan diatur, seolah aku sedang memainkan peran. Tapi tak ada panggung. Tak ada tepuk tangan. Hanya kamera, hanya orang-orang yang tak peduli pada perasaanku.
Bab Populer