Ada satu momen dalam hidup di mana kita harus belajar melepaskan sesuatu yang pernah sangat berarti, seperti hubungan yang sudah tidak lagi memberi kebahagiaan. 'Ku Lepas dengan Ikhlas' menggambarkan proses itu dengan sangat menyentuh. Awalnya, aku berpikir mengikhlaskan berarti melupakan semua kenangan indah, tapi ternyata tidak. Justru, itu tentang menerima bahwa beberapa hal tidak dirancang untuk bertahan selamanya. Aku mulai dengan menulis semua perasaan yang terpendam—rasa sakit, kemarahan, bahkan rasa terima kasih. Proses ini seperti membersihkan luka lama agar bisa sembuh dengan benar.
Kemudian, aku mencoba melihat hubungan itu dari sudut pandang yang lebih objektif. Apa yang sudah dipelajari? Bagaimana pertumbuhan pribadi setelahnya? Perlahan, aku sadar bahwa perpisahan bukan kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan. Musik dan buku menjadi teman setia; lagu-lagu sedih justru membuatku merasa tidak sendirian. Aku juga membatasi kontak untuk memberi ruang bagi diri sendiri. Waktu memang tidak menyembuhkan segalanya, tapi ia memberi perspektif baru bahwa kehidupan terus berjalan, dan kita layak untuk bahagia lagi.