Manis di Bibir, Pahit di Takdir
Setiap hari kulalui dengan bekerja, sehingga nama Devan nyaris tak lagi muncul di pikiranku.
Mungkin sekarang Devan, Keira, dan anak mereka hidup bahagia.
Namun, setiap kali bayangan itu muncul, hatiku—yang kukira sudah mati rasa—kembali terasa perih.
Suatu siang, pintu kafe terbuka perlahan.
Seorang pria muncul, menggendong seekor kucing mungil berbulu halus dipelukannya.
“Maaf,” katanya sambil tersenyum tipis, “Ini kucingmu? Dia hampir saja keluar ke jalan di depan.”
Hot Chapters