Cinta Yang Salah
Takkan ada lagi yang bisa aku marahi dikala ia sudah berbuat salah, kini jasadnya sudah terpisah dari ruh-Nya.
"Intan, maafkan kakak," ucapku seraya menghambur padanya. Kuraih dan ku genggam tangannya yang lemah tak berdaya, seraya kucium beberapa saat.
'Andai saja aku tak mendengarkan ucapannya, dan menuruti kata hatiku, mungkin Intan masih hidup sampai saat ini! Aku menyesal. Tuhan, kenapa kau ambil nyawa adikku?' batinku terus merutuki diri ini, tak terima dengan kenyataan yang sebenarnya. Air mataku tak terbendung lagi, yang sejak tadi ingin tumpah.