Selir Yang Terlupakan
Sentuhannya tegas dan penuh kepemilikan, namun anehnya terasa hati-hati—seolah beliau sedang memegang sesuatu yang berharga namun bisa berbahaya jika ditangani dengan salah.
"Apa yang kau lihat," gumamnya pelan, suaranya bergetar halus di udara sunyi. "Jawaban yang sederhana dan langsung. Kebanyakan orang akan menyajikan puisi atau sanjungan berlebihan padaku."
Beliau mencondongkan tubuh sedikit lagi, wajahnya hanya beberapa inci dariku. Cahaya lilin memantul di kedalaman matanya yang gelap, membuatnya tampak seperti jurang yang tak berdasar.