Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Khusus putri, Mas.”
Ia sudah berjalan berjam-jam. Kakinya terasa pegal, dan tenggorokannya kering. Ia mulai putus asa. Ia hanya butuh tempat untuk meletakkan kepala dan berlatih dalam damai.
Akhirnya, di sebuah jalan yang tidak terlalu besar namun cukup ramai, di antara deretan toko fotokopi dan warung makan, ia menemukannya. Sebuah bangunan dua lantai yang catnya sudah sedikit kusam, dengan pagar besi yang sedikit berkarat. Di depannya, tergantung papan kayu pudar: “TERIMA KOS PUTRA / PUTRI / PASUTRI. ADA KAMAR KOSONG.”