Lelaki Penakluk Nona Muda
Matanya menyipit mengatur posisi, tepat sebelum melemparkan anak panah di tangannya.
“Rasanya ada yang kurang ….”
Amisha menurunkan tangannya yang sudah siap melepas anak panah. Ia menelengkan kepala, menatap papan sasaran.
Buru-buru ia berjalan kembali menuju filling cabinet. Ditariknya laci kedua, dikeluarkannya sehelai kertas dan pensil dari sana. Dengan gerakan lincah, jemari lentik Amisha mulai menggoreskan sketsa wajah Dede. Tidak butuh waktu lama bagi Amisha untuk menyelesaikan sketsa itu. Melihat hasil lukisannya, Amisha tersenyum puas, dengan sebelah sudut bibir terangkat ke atas. Keahlian menggambarnya memang tidak diragukan lagi.
Hot Chapters