ADDIVA
ajak Adit menarik tangan Diva menuju warung yang merupakan markas kedua danger.
"Adit," panggil Diva dengan mencolek lengan Adit.
Adit menoleh. "Apa lagi?"
"Mangga," tunjuk Diva ke arah pohon mangga yang buahnya sudah matang. Dia membayangkan jika memakan mangga itu, pasti rasanya segar sekali.
"Enggak," tolak Adit mentah-mentah. Tidak mungkin dia mengizinkan Diva memakan mangga karena sekarang masih jam 10, meskipun mangganya sudah matang. Dia tidak ingin Diva sakit.
Hot Chapters