TERLATIH PATAH HATI
Meninggalkan sejenak kesibukannya.
"Siapa bilang mudah menikahi seorang penulis? Kita tak kebagian kalimat puitis, semua sudah diborongnya habis." Ammar tertawa kecil seraya mencubit hidung bangir wanita berwajah bulat.
Maryam Fakhrun Nisa, ia adalah alumni universitas Cairo yang juga seorang penulis. Meski sama-sama belajar di negeri Mesir, bukan berarti sebelumnya mereka dekat. Mungin hanya sebatas kenal dan tahu nama. Kedekatan itu baru terangkai saat ijab kabul usai terucap. Kecanggungan masih terasa, memberi getaran aneh saat mereka bersama. Keinginan untuk saling bermanja lebih jauh, kadang terhalang oleh ketatnya kesibukan Ammar. Jadilah wanita ekspresif itu lebih banyak menungkan per