Selubung Memori
“Mungkin juga bisa sampai muntah. Tapi ketiga kalinya—yah, kau mungkin lupa soal hitungan. Perlahan, kau hanya anggap semua kejadian yang kau lakukan itu wajar.”
Benakku mengatakan itu masuk akal, tetapi mustahil aku lupa menghitung.
“Kau lupa hitunganmu?” tanyaku.
“Aku tahu kau bakal tanya itu. Tapi mustahil aku lupa.”
“Semuanya?”
“Setiap orang yang kurenggut. Aku masih ingat.”
“Bahkan musuh?”
“Yah, coba saja.”
Entah bagaimana aku mulai menoleh ke Reila. Reila menggeleng, dengan perlahan, menggerakkan bibir tanpa suara, berbunyi, “Aku tidak memikirkannya.”
Hot Chapters