Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
Dulu, aku mengetiknya dalam keadaan marah, putus asa, dan benci pada diriku sendiri.
Sekarang, membacanya dengan kepala dingin, teks ini terasa seperti surat dakwaan di ruang pengadilan.
Mataku menyusuri paragraf ketiga. Di sana, aku menguliti caraku memanipulasi situasi. Aku menuliskan secara gamblang bagaimana aku menggunakan tubuhku, desahanku, dan kepatuhanku untuk meredakan amarah pria yang membeliku.