Perempuan Kopi
ujar Juli antusias.
Airin tersenyum. “Terima kasih, Jul. Kalau bukan karena kejelianmu dan promosi yang luar biasa, apalah arti buku-buku yang kutulis. Sekali lagi, makasih, ya…”
“Ah! Itu bukan apa-apa, Ry. Mengoreksi naskah adalah tugasku, tapi tetap saja ide keluar dari kepala penulisnya. You know, Ry, kamu penulis yang luar biasa, loh. Sebenarnya, nggak banyak, kok, editing yang kulakukan. Karena aku nggak pernah menemukan kesalahan yang berarti dalam tulisanmu. Dan… aku melakukan semuanya, tentu karena aku mencintaimu. Kamu nggak tahu, kan? Kalau aku adalah penikmat tulisanmu?”
Hot Chapters