Pembalasan Untuk Pengkhianat
Airin datang, dengan membawa segelas air putih, lalu ia sodorkan kepadaku.
Tanpa suara, aku meraih gelas itu, dan meminumnya hingga tandas.
"Rin, apa aku lagi bermimpi?" tanyaku pelan, masih dalam perasaan tidak percaya.
Airin menghela napas berat, ia memegang telapak tanganku. "Aku tahu, kamu sosok yang kuat, sebab itulah, Allah memberikan kamu cobaan ini."
Dapat kubaca arah pembicaraan Airin, semua ini nyata, aku tidak lagi berhalusinasi, maupun bermimpi.