Salah Melamar
Keringat sebiji jagung mulai bermunculan di dahiku, termasuk tubuh yang mulai terhuyung dengan pandangan yang semakin meredup.
“Dijah, ini air hangat,” ucap Mas Adam yang ternyata sudah berada di sisiku. Sayup-sayup kulihat gelas kaca berisi air hingga penuh.
“Terimakasih, Mas.”
Kupaksakan kuat, dengan tubuh yang gemetaran. Hampir kuraih benda itu hingga tiba-tiba pandanganku kembali mengabur. Gelas kaca terlihat menjadi 2, lima, dan kemudian banyak. Hingga semua tertutup oleh pekatnya kegelapan.
Hot Chapters