Dia, Adnan.
Setelahnya aku berjalan ke arah sisi kanan ranjang yang ditempati bunda untuk mendekati box bayi, kemudian membuka kain penutup tipis yang menutupi box bayi itu.
Saat melihat bayi mungil di box bayi itu, sejujurnya aku terdiam sebentar, mencerna semuanya bahwa ini adalah nyata bukan mimpi yang ku alami saking menginginkannya punya adik. Bahkan diam-diam aku mencubit punggung tanganku untuk meyakinkan bahwa ini bukan mimpi, dan ya ternyata bukan mimpi karena aku merasakan sakit.
Jika boleh digambarkan, wajah adikku tentu saja perpaduan wajah Bunda dan Ayah tetapi lebih dominan ke Ayah, Bunda hanya mewariskan alis dan bibirnya, sisanya semua persis Ayah.
Sikat na Kabanata