ISTRI KEDUA KU
jelasku panjang lebar.
Fidelya hanya diam. Dia melanjutkan sarapannya yang tinggal sedikit tanpa menyahut ucapanku.
Aku berdehem. "Fi, dengarkan Mas! Semua orang bisa mengalami mimpi dan mimpi apa saja yang di luar keinginan. Mungkin benar, Lukman bermimpi melihat kuntilanak di halaman samping rumah ini, tapi kembali lagi, itu hanya mimpi! Dan mimpi terjadi, di alam bawah sadar. Kamu paham 'kan, Fi?" Aku berkata seraya menatap wajah Fidelya. Sarapanku sudah selesai. Pagi begini, sudah membahas kuntilanak. Dasar Lukman sialan.