Antara Peran dan Perasaan
Nara membaca pesan itu berkali-kali, menangis lama —
lalu menjawab:
“Ya, Dan.
Aku mau.”
Mereka memilih tempat netral lagi:
Kyoto, Jepang.
Tenang, elegan, cukup jauh dari bising dunia.
Mereka bertemu di sebuah kafe kecil dekat Sungai Kamo.
Saat melihat Raydan berjalan dari kejauhan, Nara nyaris gemetar.
Tangannya dingin, namun detak jantungnya hangat.