Tukar Ranjang
Nadira menghela napas pelan, seolah menimbang-nimbang apakah ia perlu menanggapi atau membiarkan kata-kata itu menguap begitu saja bersama suara klakson dan deru mesin di luar sana.
“Aku tidak apa-apa,” ujarnya akhirnya, meski nada suaranya terdengar datar—seakan hanya sekadar formalitas.
Nirwan menelan ludah. Ia tahu jawaban itu bukan “aku tidak apa-apa” yang sebenarnya.
“Maksudku,” lanjut Nadira sambil menautkan jemarinya di pangkuan, “kamu tidak perlu meminta maaf terus. Kamu hanya … terbawa suasana saja.”