Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia
Padahal sebelumnya, ia baru pulang dari Jakarta, dari gedung kementrian.
Tadi, setiba dari Jakarta, Bumi tak langsung pulang ke rumah, ia justru mendatangi Rio dan Mutia. Taman belakang rumah yang sederhana akan diubah menjadi ruang intim yang hangat, penuh cahaya lampu-lampu kecil dan bunga-bunga lokal yang tak kalah menawan dari bunga impor. Bumi membentangkan sketsa tata letak, menyebut filosofi ruang, dan menggambarkan ritme suasana yang ingin ia bangun: sesuatu yang tenang, tapi dalam. Rio mendengarkan dengan serius, Mutia sesekali tersenyum kecil—mereka tak menyela, seolah tak ingin memotong sesuatu yang tumbuh dari hati.
Bumi sibuk?
Hot Chapters