Aku jadi ingat waktu mampir ke area Masjid Atta Awun saat akhir pekan; tempatnya Instagramable banget, tapi aku cepat sadar ada etika yang harus dijaga sebelum ngeluarin kamera. Pertama-tama, di kebanyakan masjid termasuk yang berada di kawasan Puncak, bagian luar dan halaman biasanya boleh difoto asal tetap sopan dan nggak mengganggu aktivitas jamaah. Namun, kalau mau memasuki ruang utama shalat atau area khusus wanita, sebaiknya tanya dulu ke pengurus atau lihat tanda larangan. Aku pernah lihat papan kecil yang melarang berfoto di dekat mimbar dan area mihrab karena dianggap ruang ibadah inti — jadi jangan anggap semuanya bebas difoto cuma karena sudutnya cantik.
Selain aturan formal, ada aturan tak tertulis yang selalu aku pegang: jangan memotret orang yang sedang beribadah tanpa izin, apalagi close-up wajahnya. Aku pernah hampir bikin suasana canggung saat lihat turis motoin jamaah dari jauh; segera aku ingetin mereka untuk minta izin dulu. Kalau kamu mau memotret arsitektur atau lanskap, pilih waktu di luar jam shalat agar nggak mengganggu. Hindari pakai flash bila orang sedang shalat karena itu mengganggu konsentrasi. Untuk pemotretan komersial atau pemakaian drone, biasanya perlu izin khusus dari pengurus masjid dan kadang dari aparat setempat — jangan nekat bikin konten komersial tanpa surat, bisa menimbulkan masalah.
Praktisnya, aku selalu lakukan tiga hal: cek tanda/aturan di lokasi, tanya secuil pada petugas bila ragu, dan minta izin pada orang yang ingin difoto. Berpakaian sopan itu wajib — pakai baju yang menutup, siap sedia syal atau pakaian penutup untuk perempuan bila perlu, dan jangan lupa lepaskan sepatu saat masuk area lantai shalat. Kalau kamu mau hasil foto yang enak tanpa beresiko, datang pagi-pagi waktu belum ramai atau sore saat cahaya bagus, dan tetap hormati privasi. Intinya, ambil foto sebanyak mungkin tapi tinggalkan rasa hormat lebih banyak lagi — itu yang selalu bikin pengunjung dan pengurus senang, jadi kamu juga bisa menikmati tempatnya tanpa drama.