Tetanggaku Luar Biasa
Sementara Arif, tampak diam, dengan rahang mengeras.
"Kurangnya berapa, Bu?" tanyaku pada Bu Dibyo yang wajahnya juga terlihat memerah.
"Sampai lunas, Mbak Ajeng?"
"Iya, Bu."
"Sebentar." Bu Dibyo mengambil buku kecil dari tasnya. Tangannya tampak cekatan membuka lembar demi lembar buku berisi catatan para pelanggannya. Bu Dibyo menyebutkan sejumlah angka sambil menunjukkan catatan yang tempo hari ia perlihatkan padaku. Kuserahkan sejumlah uang sesuai yang disebutkan Bu Dibyo tadi.