Vila Melati
Ia menyondongkan kepala, menengok kertas di tanganku.
Dahinya berkerut, matanya melebar, "Oh ... vila melati toh?"
"Betul, Bang. Aku mau ke sana. Bisa bantu panggilkan ojek gak?" Aku begitu gembira ternyata vila itu memang populer di sini.
"Bukannya vila tersebut udah lama ditutup, 'kan?" Ia menatap curiga.
"Kagaklah, Bang. Kalau udah tutup, ngapain mereka sebar brosur segala?" Aku meyakinkan si kernet atau lebih tepatnya meyakinkan diriku sendiri.
Hot Chapters