Terpaksa Menikahi Ibu Guruku
Iya, ketahuannya sekali yang nggak ketahuan emang berkali-kali, sih.
“Kalau yang ini ….”
Segepok uang merah kembali Papa ambil dari saku jas lalu disodorkan pada Azyura. Hah, buat apa lagi, aku memandang curiga.
“Buat nyalon. Calon pengantin baru kan harus tampil cantik dan paripurna.” Papa melirik ke arahku lantas tersenyum seperti menyiratkan sesuatu.
“Kebanyakan itu, Pa,” sambarku. “Salon di desa bayarannya murah, itu pun kalau ada salon di desanya,” cibirku.