Jerat Tuan Pebinor
“Ketika mandi tadi, dia bilang sangat ingin kau menjenguknya. Dia merindukan permainan lidahmu yang nikmat.”
Dengan menyelesaikan kalimat itu, Arsen lantas mendorong kepalaku ke bawah, memaksa diri berjongkok tepat di depan junior yang kini menantang dengan gagah. Mataku tak lekang dari bentuknya yang sangat indah, besar, juga berotot menggoda. Tanpa membuang waktu, kubuka mulut dan menjulurkan lidah untuk membasahi bagian kepalanya seakan benda itu adalah sebuah es loli yang nikmat.
“Ughm ... kau benar-benar hebat, Sayang,” puji Arsen diiringi erangan kecil darinya, yang membuat aku semakin bersemangat mengulum benda tumpul penuh urat itu.
Bab Populer